Karanganyar – Komitmen terhadap pengembangan sumber daya manusia (SDM) olahraga disabilitas kembali ditegaskan Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Prof. Dr. Reda Manthovani, SH., LLM.
Hal tersebut disampaikan Reda saat membuka kegiatan Training of Trainers (ToT) bagi para pelatih dan instruktur kontingen paralimpik Indonesia, di NPC Training Center Delingan, Karanganyar pada 11 Mei lalu.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Erick Thohir, serta menjadi bagian dari persiapan kontingen Indonesia menghadapi Asian Para Games 2026 di Nagoya, Jepang.
Dalam kapasitasnya sebagai Chef de Mission (CdM) National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, Reda Manthovani menegaskan prestasi atlet tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga kualitas pendampingan yang diberikan para pelatih.
“Para pelatih memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, mental, dan kemampuan atlet. Karena itu, peningkatan kapasitas pelatih harus menjadi prioritas dalam proses pembinaan olahraga paralimpik,” ujar Reda.
Sebagai inisiator Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB), Reda Manthovani selama ini dikenal aktif mendorong terciptanya ruang yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas.
Menurutnya, olahraga merupakan salah satu sarana penting untuk menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menjadi penghalang untuk berprestasi dan menginspirasi masyarakat.
Melalui kegiatan ToT ini, para pelatih dibekali metode kepelatihan terbaru yang lebih adaptif terhadap kebutuhan atlet paralimpik. Selain itu, program ini juga menjadi wadah transfer pengetahuan dari pelatih senior kepada generasi pelatih berikutnya agar keberlanjutan prestasi dapat terus terjaga.
Reda juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, organisasi olahraga, dan masyarakat dalam menciptakan sistem pembinaan yang berkelanjutan.
“Kami memohon dukungan penuh dari Bapak Menpora Erick Thohir untuk terus mengawal dan membantu tim paralimpik yang akan berangkat ke Nagoya,” ucap Reda.
‘Melalui program-program yang ada di Kemenpora, kami optimistis atlet kita mampu bersaing di level tertinggi,” lanjutnya.
Menpora Erick Thohir memberikan apresiasi atas pelaksanaan program tersebut. Ia menilai peningkatan kualitas pelatih merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan masa depan olahraga paralimpik Indonesia.
Menurut Erick, program seperti ToT harus menjadi agenda berkelanjutan karena keberhasilan atlet lahir dari proses pembinaan yang konsisten dan didukung oleh pelatih yang kompeten.
Melalui penguatan kapasitas SDM, Indonesia diharapkan tidak hanya mampu bersaing di Asian Para Games 2026, tetapi juga semakin memperkokoh fondasi pembinaan olahraga inklusif yang memberikan kesempatan setara bagi semua atlet untuk berkembang dan berprestasi.