Jakarta – Di tengah meningkatnya kebutuhan akan akurasi dan transparansi dalam program sosial, Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB) menghadirkan terobosan baru lewat pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan sistem pemantauan digital dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG)-Swasta.
Bersama Grab dan OVO, YIPB mengoperasikan MBG Command Center yang berfungsi memantau seluruh rantai distribusi makanan secara real-time. Command Center yang berlokasi di kantor GrabSupport Jakarta Selatan ini bekerja layaknya ruang kendali terpadu.
Di sini, data dari dapur mitra UMKM, kurir, hingga sekolah penerima manfaat dikumpulkan dan dianalisis setiap hari. Teknologi berbasis AI membantu tim memantau waktu pengantaran, kondisi makanan, dan kepatuhan terhadap standar gizi dan kebersihan yang telah ditetapkan.
“Pemanfaatan teknologi digital, termasuk command center berbasis AI, membuat kami bisa memastikan makanan sampai tepat waktu dan dalam kondisi terbaik,” ujar Neneng Goenadi, Chief Executive Officer Grab Indonesia.
Sistem ini tak hanya mendeteksi keterlambatan atau kesalahan pengiriman, tetapi juga mampu memberikan notifikasi otomatis jika ada indikasi pelanggaran standar kebersihan atau gizi. Semua data tersimpan dalam sistem terintegrasi yang dapat diakses oleh tim YIPB, Grab, dan OVO untuk evaluasi harian maupun inspeksi berkala.
Program MBG-Swasta sendiri telah menjangkau 18 sekolah khusus di lima kota/kabupaten di Banten, melibatkan 12 UMKM penyedia makanan, dan melayani lebih dari 2.200 anak berkebutuhan khusus serta guru. Seluruh proses berjalan di bawah standar ketat yang disusun bersama Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan setempat.
Menurut Cahaya Manthovani, Ketua Pelaksana Harian YIPB, inovasi teknologi dalam program sosial menjadi langkah penting untuk meningkatkan akuntabilitas dan keamanan.
“Dengan sistem pengawasan gizi end-to-end secara digital, kami bisa memantau setiap tahap penyajian makanan. Ini penting karena banyak siswa berkebutuhan khusus memiliki pantangan atau alergi makanan tertentu,” ujarnya.
Selain menjamin keamanan distribusi, penerapan AI juga membantu dalam analisis pola konsumsi dan kebutuhan gizi siswa di berbagai wilayah. Data ini menjadi dasar bagi YIPB dan Grab untuk menyesuaikan menu dan memperbaiki rantai logistik dari waktu ke waktu.
Bagi Maya Miranda Ambarsari, Ketua Pembina YIPB, teknologi bukan sekadar alat bantu, melainkan kunci keberlanjutan.
“Pemanfaatan teknologi dan evaluasi rutin membuat distribusi makanan semakin transparan dan akurat. Ini adalah cara kami memastikan setiap langkah program membawa dampak nyata,” katanya.
Lebih jauh, Grab dan OVO juga mengintegrasikan teknologi pemantauan dengan sistem logistik internal, memungkinkan pelacakan makanan dari dapur ke sekolah tanpa jeda data. Pendekatan tech for good ini memperlihatkan bagaimana inovasi digital bisa diterapkan di sektor sosial, bukan hanya untuk efisiensi, tetapi juga untuk memperkuat nilai kemanusiaan dan inklusi.
Dengan dukungan sistem berbasis AI ini, program MBG-Swasta tak hanya menjadi inisiatif gizi semata, melainkan model baru bagi penerapan teknologi cerdas untuk kesejahteraan sosial di Indonesia.