Karanganyar – Perjalanan menuju Asian Para Games 2026 di Nagoya, Jepang, tidak hanya dimulai dari arena pertandingan. Persiapan besar itu telah dimulai jauh sebelumnya melalui penguatan kualitas pelatih yang akan mendampingi para atlet paralimpik Indonesia.
Komitmen tersebut terlihat dalam kegiatan Training of Trainers (ToT) yang dibuka langsung oleh Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Reda Manthovani di NPC Training Center Delingan, Karanganyar, bersama Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Erick Thohir.
Sebagai Chef de Mission (CdM) NPC Indonesia untuk Asian Para Games 2026, Reda Manthovani menegaskan bahwa keberhasilan kontingen Indonesia merupakan hasil kerja kolektif yang melibatkan banyak pihak, mulai dari atlet, pelatih, pemerintah, hingga masyarakat.
“Kami optimistis atlet paralimpik Indonesia mampu bersaing di level tertinggi apabila mendapatkan dukungan dan pendampingan yang tepat,” ujar Reda.
Bagi Reda, yang juga merupakan inisiator Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB), olahraga paralimpik memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar perolehan medali. Prestasi para atlet disabilitas merupakan simbol kesetaraan kesempatan dan bukti nyata bahwa setiap individu memiliki potensi untuk meraih mimpi mereka.
Karena itu, YIPB memandang pembinaan olahraga disabilitas sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih inklusif dan menghargai keberagaman kemampuan.
Kegiatan ToT sendiri dirancang untuk memperkuat tiga aspek utama. Pertama, meningkatkan standar kepelatihan melalui metode yang lebih adaptif terhadap kebutuhan atlet paralimpik. Kedua, memastikan proses transfer pengetahuan dari pelatih senior kepada generasi berikutnya. Ketiga, mempersiapkan aspek teknis dan mental atlet menjelang keberangkatan ke Nagoya.
Menpora Erick Thohir menyambut baik program tersebut dan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
Menurut Erick, investasi pada kualitas pelatih merupakan langkah strategis untuk menjaga kesinambungan prestasi olahraga Indonesia, khususnya di cabang paralimpik yang terus menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir.
Melalui sinergi antara Kemenpora, NPC Indonesia, tim CdM, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, harapan besar kini tertuju pada kontingen Merah Putih yang akan berlaga di Nagoya.
Lebih dari sekadar mengejar medali, perjuangan para atlet paralimpik Indonesia juga membawa pesan penting tentang semangat, ketangguhan, dan inklusi yang dapat menginspirasi seluruh masyarakat Indonesia.