Jakarta – Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung RI, Prof. Dr. Reda Manthovani, S.H., LL.M., memberikan klarifikasi terkait namanya yang disebut dalam laporan Indonesia Corruption Watch (ICW) mengenai pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) Swasta.
Dalam kajian tersebut, ICW menyoroti keberadaan Reda di Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB) yang disebut memiliki keterkaitan dengan penyelenggaraan MBG. Namun, program yang dijalankan Reda Manthovani bersama YIPB, berbeda dengan MBG milik pemerintah.
“Kami menemukan adanya jejak jaksa di balik MBG Swasta yang mana mengarah ke Yayasan Inklusi Pelita Bangsa. Di dalam yayasan ini, ada dua jaksa yaitu Reda Manthovani dan Denny Ahmad (Kajari Kabupaten Bogor),” ucap peneliti ICW, Seira Tamara, di kanal YouTube ICW.
“Keterkaitan antara yayasan ini dengan penyediaan MBG dilaksanakan alam bentuk skema MBG Swasta. Ketidakjelasan pelaksanaan MBG Swasta ini juga terjadi akibat tidak adanya transparansi data dan informasi berkaitan dengan tata kelola dan pelaksanaan MBG,” lanjutnya.
Menanggapi hal itu, Reda menegaskan MBG Swasta tidak memiliki hubungan dengan program MBG nasional yang dikelola Badan Gizi Nasional (BGN). Reda menyebut program yang selama ini dikaitkan dengan dirinya merupakan kegiatan sosial yang ditujukan bagi penyandang disabilitas dan lahir dari semangat kepedulian masyarakat.
“Dalam menyikapi informasi yang beredar terkait Program MBG untuk penyandang disabilitas, saya telah menjelaskan secara langsung dalam dialog di Kompas TV, program ini merupakan murni program kemanusiaan yang lahir dari semangat kepedulian dan gotong royong,” tulis Reda melalui akun Instagram pribadinya.

Reda juga membantah anggapan program tersebut menggunakan fasilitas ataupun sumber pendanaan dari pemerintah. Ia menegaskan seluruh kegiatan dijalankan secara mandiri melalui dukungan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pemenuhan gizi penyandang disabilitas.
“Perlu saya tegaskan pelaksanaan program ini tidak menggunakan anggaran negara maupun dana pemerintah. Seluruh kegiatan dijalankan melalui dukungan dan partisipasi berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pemenuhan kebutuhan gizi bagi saudara-saudara kita penyandang disabilitas,” ujarnya.
Reda Manthovani mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di ruang publik.
“Mari bersama-sama lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi. Pastikan setiap informasi yang diterima berasal dari sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena kepedulian tidak selalu harus menunggu anggaran, tetapi dapat dimulai dari niat baik untuk membantu sesama,” tutupnya.