Jakarta – Di tengah denting bola yang memantul berulang dan sorak-sorai penonton, suasana Atrium Utama Pluit Village Mall, Jakarta Utara, terasa begitu hidup. Area di tengah mal itu disulap menjadi arena kompetisi NCPI Table Tennis Championship 2025 yang mempertemukan ratusan atlet dari berbagai kategori, termasuk atlet disabilitas.
Bagi Yasin Onasie, Ketua NPCI DKI Jakarta, pemandangan ini adalah wujud dari misi besarnya yaitu untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa disabilitas bukan akhir sebuah cerita. “Atlet disabilitas bisa berkarya bagi keluarga, bangsa, dan negara. Mereka hanya butuh kesempatan untuk membuktikannya,” ujarnya.
Menurut Yasin, National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) memiliki peran berbeda dari KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia). Jika KONI menaungi olahraga umum, NPCI khusus mewadahi olahraga untuk penyandang disabilitas.
Perbedaan utamanya terletak pada klasifikasi, mulai dari atlet amputasi yang hanya boleh bertanding dengan lawan amputasi serupa, hingga pengguna kursi roda yang bertanding dengan sesama pengguna kursi roda.
Namun, tahun ini NPCI DKI Jakarta berani melangkah lebih jauh dengan menggabungkan atlet disabilitas dan non-disabilitas dalam satu ajang. Meski demikian, pertandingan tetap mengikuti klasifikasi resmi, seperti membedakan kategori kursi roda, amputasi, standing, maupun pembagian kelas berdasarkan tingkat disabilitas. Kategori umum juga dibagi menurut usia, termasuk kelompok U-15 dan divisi untuk peserta 30 tahun ke atas.
“Kami ingin masyarakat menyaksikan langsung bahwa semangat dan sportivitas tidak mengenal kondisi fisik. Olahraga adalah ruang persatuan,” tuturnya.
Bagi Yasin, tantangan terbesar atlet disabilitas bukan sekadar teknik bermain, melainkan mental. Diakui olehnya bahwa mental para atlet disabilitas sering kali diuji oleh rasa kecewa atau rasa kurang percaya diri.
“Maka kami melihat ajang seperti ini penting untuk memupuk rasa percaya diri, apalagi kegiatannya diadakan di mal. Ini menjadi salah satu upaya agar mereka terbiasa tampil di depan publik,” katanya.
NPCI DKI Jakarta Table Tennis Championship 2025 diikuti 335 peserta, terdiri dari 128 atlet disabilitas dari 13 provinsi dan lebih dari 200 peserta umum. Turnamen itu berlangsung pada 8-10 Agustus 2025, dan memperebutkan total hadiah Rp180 juta serta dua piala utama untuk kategori umum dan kategori disabilitas bagi provinsi dengan perolehan medali terbanyak.
Yasin mengakui bahwa penyelenggaraan sebesar ini baru bisa terwujud berkat kerja sama dengan Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB) dan dukungan tokoh publik seperti Chef de Mission (CDM) Paralimpiade Reda Manthovani.
“Tahun ini eksposurnya luar biasa. Ini yang terbesar, dan saya berharap bisa jadi motivasi bagi teman-teman disabilitas untuk percaya diri dan tidak minder,” pungkasnya.

Ketua Pelaksana, Cahaya Manthovani, mengatakan bahwa selain mencari bibit unggul untuk Paraseagames 2026 dan Paralympic 2028, ajang ini menjadi ruang untuk menampilkan kemampuan para atlet disabilitas di hadapan publik.
“Kami ingin menunjukkan bahwa disabilitas bukan penghalang untuk berprestasi. Justru mereka memiliki semangat dan potensi besar yang bisa menjadi inspirasi kita semua,” ujarnya.
Ketua Dewan Pembina YIPB, Maya Miranda Ambarsari, menyebut pemilihan mal sebagai lokasi pertandingan bertujuan agar masyarakat dapat langsung menyaksikan perjuangan para atlet. “Kami ingin olahraga menjadi ruang untuk saling memahami dan mendukung, bukan sekadar kompetisi,” kata Maya.
Kehadiran tokoh publik seperti Raffi Ahmad, Denny Sumargo, dan Jusuf Hamka, hingga sejumlah menteri seperti Nusron Wahid dan Raja Juli Antoni, mempertegas bahwa pesan inklusi ini mendapat dukungan luas. Bahkan para menteri yang hadir juga ikut serta bermain bersama para atlet disabilitas di dalam satu arena.
Dengan mengusung tema “Mendobrak Batas”, NPCI DKI Jakarta Table Tennis Championship 2025 menjadi lebih dari sekadar ajang perebutan gelar. Ia adalah panggung inspirasi, di mana para atlet disabilitas membuktikan bahwa kemenangan terbesar adalah mengalahkan rasa ragu, lalu berdiri tegak di hadapan dunia.
Sumber: Hypeabis