Tangerang Selatan – Di sebuah dapur kecil milik Omah Kulina di Tangerang, aroma tumisan sayur dan ayam goreng memenuhi udara sejak pagi. Beberapa pekerja sibuk menata kotak makan bergizi untuk dikirim ke sekolah-sekolah khusus di sekitar Banten.
Setiap boks tak hanya berisi makanan, tetapi juga harapan, bagi anak-anak berkebutuhan khusus dan para pelaku UMKM yang kini mendapat kesempatan tumbuh bersama lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG)-Swasta.
Program yang diinisiasi Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB) bersama Grab dan OVO ini sejak awal didesain bukan hanya untuk memperbaiki kualitas gizi anak-anak, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi pelaku UMKM di daerah.
Sebanyak 12 UMKM, termasuk dapur sekolah dan usaha rumahan, kini menjadi mitra resmi penyedia makanan bergizi di 18 sekolah khusus (SKh) di lima wilayah Banten: Tangerang, Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Serang, dan Cilegon.
“Kami ingin memastikan program gizi ini juga memberi efek ekonomi bagi masyarakat sekitar. Para pelaku UMKM tidak hanya memasak, tapi juga mendapatkan pelatihan dan pendampingan agar kualitasnya meningkat,” ujar Cahaya Manthovani, Ketua Pelaksana Harian YIPB.
YIPB menggandeng Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan dalam proses pemilihan dan pembinaan UMKM. Setiap dapur mitra harus melalui serangkaian inspeksi, mulai dari kebersihan dapur, sanitasi, hingga pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Tak hanya itu, mereka juga mendapatkan edukasi tentang gizi seimbang dan penyesuaian makanan untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus. Pendekatan ini membuat para pelaku UMKM merasa lebih percaya diri dan memiliki nilai tambah bagi usahanya.
Salah satu mitra, pemilik Omah Kulina, mengaku bahwa keterlibatan dalam program ini membawa perubahan signifikan.
“Kami jadi lebih disiplin menjaga standar kebersihan dan belajar soal gizi anak. Selain itu, pesanan harian dari sekolah membuat dapur kami lebih stabil secara ekonomi,” ujarnya.
Dari sisi teknologi, YIPB bersama Grab mengintegrasikan sistem distribusi digital dan Command Center berbasis AI untuk memastikan makanan dari dapur UMKM sampai ke sekolah dengan aman dan tepat waktu.
Langkah ini menambah transparansi dan efisiensi, sekaligus memudahkan para pelaku usaha kecil dalam mencatat dan memonitor proses pengiriman.
Sementara itu, Maya Miranda Ambarsari, Ketua Pembina YIPB, menilai pemberdayaan UMKM sebagai kunci keberlanjutan program.
“Kami percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal kecil, termasuk dapur-dapur lokal yang setiap hari menyiapkan makanan dengan sepenuh hati. Ketika mereka berdaya, maka manfaat program ini akan berlipat ganda,” ujarnya.
Melalui kolaborasi ini, para pelaku UMKM bukan hanya menjadi penyedia, tetapi juga mitra strategis dalam memastikan anak-anak berkebutuhan khusus mendapatkan asupan gizi yang layak.
Program MBG-Swasta pun menjadi contoh bagaimana tanggung jawab sosial perusahaan bisa dirancang secara inklusif, mempertemukan kepedulian, teknologi, dan ekonomi rakyat dalam satu gerakan bersama.