Tangerang — Di balik riuh tepuk tangan dan keceriaan yang membanjiri Hall 10 ICE BSD, Minggu (7/11/2025), ada sebuah kenyataan yang semakin jelas: Indonesia sedang memasuki era baru dalam gerakan inklusi.
Bukan lagi sebatas tema seremonial setiap Hari Disabilitas Internasional, melainkan sebuah pergerakan masyarakat yang hidup, terukur, dan terhubung dengan masa depan berkelanjutan. Gerakan itu bernama InklusiLand 2025.
Tahun ini, Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB) mengambil langkah paling progresif sejak berdiri, dengan mengubah perayaan Hari Disabilitas Indonesia menjadi ekosistem inklusi terbesar yang pernah diselenggarakan di Indonesia, dengan format festival publik multidimensi yang menghubungkan sosial, edukasi, lingkungan, hingga ekonomi sirkular.
Alih-alih memusatkan panggung pada seremoni, YIPB mengarahkan sorotan ke hal yang jauh lebih penting: pemberdayaan, pengalaman langsung, dan perubahan pola pikir masyarakat.
“InklusiLand bukan sekadar festival, ini adalah gerakan. Ketika kita menjaga lingkungan, kita sedang membuka akses dan ruang hidup bagi semua. InklusiLand adalah ruang untuk merayakan keberagaman, menghargai perjuangan, dan menyalakan semangat kolaborasi,” tegas Cahaya Manthovani, Inisiator Inklusiland sekaligus penggerak utama inisiatif ini.
Dengan peserta lebih dari 3.500 orang, yang terdiri dari atlet difabel, keluarga, komunitas inklusif, pelajar, UMKM, hingga pencinta lingkungan, InklusiLand menjelma menjadi ruang publik raksasa tempat semua orang setara.
Mulai dari Lestari 1K Fun Walk, paparazzi runway, hingga Arena Gerak Cahaya, seluruh rangkaian acara membuktikan satu hal: setiap orang berhak merayakan diri mereka tanpa batasan.
Pada festival ini, empat tokoh lintas disiplin menerima penghargaan Anugerah Inklusi Pelita Bangsa atas kontribusi luar biasa mereka. Keempatnya adalah:
- Prof. Dr. Ali Muktiyanto – Mendorong kebijakan pendidikan tinggi inklusif di Universitas Terbuka.
- Dr. Fauzi – Dosen tuli pertama bergelar doktor seni fotografi di Indonesia.
- Rina Jayani – Pendiri Aluna Montessori yang konsisten mendampingi anak berkebutuhan khusus dan keluarganya.
- Putri Ariani – Penyanyi internasional yang membawa representasi positif ke panggung dunia.
Masing-masing memberikan inspirasi bahwa inklusivitas bukan sekadar empati, tapi kepemimpinan yang tumbuh dari pengalaman hidup.
Sebagai penutup festival, ribuan peserta menyaksikan Simfoni Cahaya Penghidupan, pertunjukan artistik yang menyatukan talenta nasional seperti Putri Ariani, Ghea Indrawari, dan Akusara Dance.
Pertunjukan ini menjadi simbol bahwa seni adalah bahasa universal yang menyatukan semua manusia.
Empat pemerintah daerah, yakni Provinsi Banten, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang menyatakan komitmen bersama untuk memperluas ruang publik ramah difabel.
Komitmen ini menjadikan InklusiLand bukan hanya peristiwa, tetapi awal dari kebijakan jangka panjang.
Hadirnya berbagai tokoh nasional, mulai dari Menteri UMKM, Menteri Koperasi, pejabat kementerian, hingga figur publik, menegaskan isu inklusi kini menjadi perhatian lintas sektor, bukan hanya urusan kelompok tertentu.
Menutup perhelatan, Cahaya Manthovani menyampaikan pesan yang mencerminkan arah masa depan InklusiLand.
“Perjalanan ini bukan milik satu lembaga. Ini milik setiap keluarga, setiap relawan, setiap komunitas. InklusiLand adalah ruang bertumbuh, bukan perayaan tunggal. Mari kita terus menyalakan cahaya untuk Indonesia yang memberi tempat bagi semua,” tutupnya