Jakarta – Cahaya Manthovani, Ketua Harian Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB), tak dapat menyembunyikan rasa harunya ketika menyaksikan penampilan pantomim dari anak-anak SLB 07 Jakarta dalam rangkaian Festival Storytelling Cerita Rakyat “Suara Nusantara” 2025.
Baginya, momen itu bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi sebuah pengingat setiap anak, apa pun kondisinya memiliki cara istimewa untuk bersuara.
“Saya benar-benar terharu. Tanpa satu kata pun, mereka dapat menyampaikan cerita dengan begitu kuat dan jujur. Penampilan mereka memukau, penuh keberanian, dan sangat menyentuh hati,” ujar Cahaya.

Saat para siswa SLB 07 Jakarta naik ke panggung dengan riasan khas pantomim, suasana ruang pertunjukan langsung berubah hening. Dalam keheningan itu, gerakan demi gerakan mereka mengalir lembut ada yang lucu, ada yang haru, dan semuanya membawa pesan yang dalam.
Penonton terpikat pada cara mereka mengekspresikan emosi. Tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka, tetapi cerita yang mereka sampaikan begitu lantang dan menyentuh.
Bagi Cahaya, momen ini menjadi bukti bahwa seni bisa menjadi jembatan inklusif yang memungkinkan setiap anak mengekspresikan dirinya.
“Anak-anak ini mengingatkan kita bahwa tidak semua cerita membutuhkan kata. Kadang, keheninganlah yang membuat sebuah pesan lebih sampai ke hati,” tuturnya.
Ruang Inklusif yang Harus Terus Dijaga
Sebagai organisasi yang berkomitmen pada inklusivitas, YIPB memastikan festival ini memberi ruang bagi seluruh anak, termasuk mereka yang berasal dari sekolah luar biasa. Kehadiran penerjemah bahasa isyarat sepanjang acara juga menegaskan bahwa literasi dan seni harus dapat diakses oleh semua.
Beberapa anak dari berbagai SLB turut hadir dan berpartisipasi, memperlihatkan bahwa keberagaman bukan hanya diterima tetapi dirayakan.
“Kami ingin semua anak merasa bahwa mereka punya panggung. Punya ruang untuk didengar. Penampilan SLB 07 adalah bukti bahwa ketika mereka diberi kesempatan, karya mereka bisa sangat luar biasa,” kata Cahaya.
Ketua Dewan Pembina YIPB, Maya Miranda Ambarsari, juga memberikan apresiasi tinggi atas penampilan tersebut. Ia menilai bahwa momen ini sejalan dengan misi YIPB untuk memperluas akses literasi dan ekspresi kreatif bagi seluruh kalangan.
“Penampilan ini membuktikan bahwa kreativitas tidak memiliki batas. Anak-anak SLB 07 Jakarta menunjukkan keberanian luar biasa. Festival seperti ini harus menjadi ruang bagi mereka untuk tumbuh, berekspresi, dan dihargai,” ujarnya.