Jakarta – Interaksi sosial menjadi elemen penting dalam membangun lingkungan yang inklusif. Tidak hanya soal belajar di ruang yang sama, tetapi bagaimana anak-anak dengan latar belakang berbeda dapat berinteraksi secara alami dan setara.
Yayasan Inklusi Pelita Bangsa menempatkan interaksi sebagai bagian penting dalam setiap programnya. Dalam sistem inklusif, interaksi rutin terbukti mampu mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap kelompok tertentu.
Ketika anak-anak terbiasa berinteraksi tanpa sekat, mereka akan tumbuh dengan pemahaman bahwa perbedaan adalah hal yang wajar. Ketua Pelaksana Harian yayasan, Cahaya Manthovani, menegaskan,
“Inklusi tidak hanya dibangun dari kebijakan, tetapi dari kebiasaan berinteraksi yang setara dalam kehidupan sehari-hari.”
Melalui kegiatan bersama, seperti permainan, diskusi, hingga aktivitas kreatif, anak-anak belajar untuk saling memahami dan menghargai. Proses ini membentuk empati yang tidak bisa diajarkan hanya melalui teori.
Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan inklusif cenderung memiliki perspektif yang lebih terbuka dan inklusif di masa depan.
Inilah mengapa inklusi harus dimulai sejak dini—karena perubahan besar berawal dari kebiasaan kecil.